Sabtu, 10 April 2010

perspektif dan karakterisrik KAP

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Teori Dasar

1.1.1 Komunikasi Antar Pribadi

Para ahli komunikasi mendefinisikan komunikasi antar pribadi secara berbeda-beda, dan berikut ini adalah 3 sudut pandang definisi utama :

A. Berdasarkan Komponen

Komunikasi Antar Pribadi didefinisikan dengan mengamati komponen-komponen utamanya, yaitu mulai dari penyampaian pesan oleh satu orang dan penerimaan pesan dari orang lain atau sekelompok kecil orang dengan berbagai dampak hingga peluang untuk memberikan umpan balik.

B. Berdasarkan Hubungan Diadik

Komunikasi antar pribadi (KAP) adalah komunikasi yang berlangsung diantara dua orang yang mempunyai hubungan yang mantap dan jelas. Sebagai contoh dapat dilihat pada hubungan komunikasi antar pribadi antara anak dengan ayah, pramuniaga dengan pelanggan, guru dengan murid, dll. Definisi ini disebut juga definisi diadik yang menjelaskan bahwa selalu ada hubungan tertentu yang terjadi antara 2 orang, bahkan pada hubungan persahabatan juga dapat dilihat hubungan antar pribadi yang terjalin antar dua sahabat.

C. Berdasarkan Perkembangan

Komunikasi antar pribadi dilihat sebagai akhir dari perkembangan dari komunikasi yang bersifat tak pribadi (impersonal) menjadi komunikasi pribadi atau yang lebih intim.

Ketiga definisi diatas membantu dalam menjelaskan yang dimaksud dengan komunikasi antar pribadi dan bagaimana komunikasi tersebut berkembang, serta bahwa komunikasi antar pribadi dapat berubah apabila mengalami suatu perkembangan (Devito 1997:231-232).

Para ahli komunikasi mengemukakan enam jenis hubungan antar pribadi yaitu : hubungan perkenalan, hubungan persahabatan, hubungan keintiman, hubungan suami istri, hubungan orang tua dengan anak, hubungan persaudaraan (liliweri 1997:54).

Beberapa alasan umum mengapa seseorang menjalin hubungan diantaranya yaitu : mengurangi kesepian dimana rasa kesepian itu muncul ketika kebutuhan interaksi akrab tidak terpenuhi, mengutarakan dorongan karena semua manusia membutuhkan dorongan semangat dan salah satu cara terbaik mendapatkannya adalah dengan interaksi antar manusia, memperoleh pengetahuan tentang diri sendiri karena melalui interaksi seseorang akan melihat dirinya seperti orang lain melihatnya, memaksimalkan kesenangan dan meminimalkan rasa sakit dengan cara memulai berbagi rasa dengan orang lain karena seseorang berusaha untuk memaksimalkan kesenangan dan meminimalkan rasa sakit (Devinto, 1997 : 226-227).

Proses negoisasi dimulai ketika individu dalam suatu hubungan mempunyai kesadaran penuh bahwa mereka berbeda dengan individu lainnya. Pada kenyataannya, dalam komunikasi antar pribadi semuanya melalui proses negoisasi. Dua manusia yang berbeda antara satu dengan yang lain menegosiasikan perbedaan mereka untuk mendapat pegertian dari penyelesaian yang di dapatkan dari perbedaan-perbedaan yang ada. Hubungan manusia melalui suatu proses dari perkenalan kearah hubungan yang lebih intim bahkan dapat ke arah kemunduran dan pemutusan hubungan.

1.1.2 Tahapan Komunikasi Antar Pribadi

Berdasarkan beberapa pendapat yang dikemukakan oleh para ahli komunikasi terdapat enam tahap hubungan dalam komunikasi antar pribadi, antara lain : hubungan perkenalan, hubungan persahabatan, hubungan keintiman, hubungan suami istri, hubungan orang tua dengan

anak, hubungan persaudaraan (liliweri 1997:54). Tahap perkenalan, dalam tahap ini di kategorikan sebagai tahap perkenalan karena proses pertukaran informasi dan tingkat keterbukaan tahap diri, pada tahap ini sangat terbatas, karena pada waktu pertama kali bertemu dengan seseorang pembicaran yang terjadi hanya akan pada seputar informasi untuk saling mengenal saja. Dua pribadi tersebut tidak terlibat dalam pembicaraan yang barsifat pribadi apalagi bertukar bertukar informasi pribadi. Hubungan pada tahap perkenalan di bagi menjadi atas 3 tahap yaitu :

1. Tahap Pasif : Yaitu tahap yang mengutamakan perhatian pada komunikan tanpa menanyakan apa-apa, seluruh situasi dan kondisi tetap sebagai mana apa adanya da tidak di manipulasi.

2. Tahap Aktif : Yaitu tahap mengajukan pertanyaan, mendengarkan dan memperhatikan komunikan, komunikan mulai memanipulasi situasi hubungan antar pribadi.

3. Tahap Interaktif : Ialah tahap memanipulasi komunkan agar komunikator bisa memperoleh informasi melalui komunikasi komunikan (Liliweri, 1997 54-55).

4. Tahap persahabatan, tahap ini dapat juga disebut sebagai tahap pertemanan. Persahabatan diperoleh setelah melalui tahap perkenalan. Seorang sahabat merupakan orang yang mempunyai kedudukan tertentu dalam hubungan antar pribadi. Menempatkan seorang menjadi sahabat karena telah mengenal dia dengan baik, selain itu kita juga telah menaruh rasa percaya dan harapan kepada dia sebagai seorang perhatian terhadap kita. Persahabatan yang baik ditandai dengan adanya kehangatan dan kasih sayang, kejujuran, adanya komitmen dan menjalani hubungan tersebut secara alami. Dalam hubungan persahabatan, komitmen ditunjuk dengan cara mengorbankan waktu dan energy mereka untuk menolong sahabat yang membutuhkan. Ada satu prinsip umum yang harus dijaga dalam persahabatan yaitu, keseimbangan dan kesejajaran kedudukan. Persahabatan menghendaki agar dua pihak komunikator dan komunikan harus merasa mempunyai kedudukan yang sama, tidak ada yang lebih tinggi dari pada yang lain. Persahabatan mempunyai beberapa fungsi diantaranya :

1. Membagi pengalaman agar dua pihak merasa sama-sama puas dan sukses.

2. Menunjukan hubungan emosional.

3. Sukarela membantu jika diperlukan pihak lain.

4. Berusaha membuat pihak lain menjadi senang.

5. Membantu seksama jika dia berhalangan untuk suatu urusan (liliweri 1997:55).

Tahap keakraban atau keintiman, jika pertemanan sudah diciptakan maka tahap tersebut dapat ditingkatkan menjadi hubungan antar pribadi yang akrab dan intim. Dalam hubungan ini keakraban dan keintiman terjadi karena dua pribadi memiliki banyak kesamaan dan keadaan tersebut dapat menimbulkan rasa cinta. Keadaan tersebut dapat menumbuhkan rasa cinta yang dapat menumbuhkan rasa cinta yang dapat menentukan relasi selanjutnya (liliweri 1997:55-56).

Hubungan suami isteri, hubungan ini ditandai dengan cinta antara dua individu yang telah menjalin kasih dan terikat di dalam suatu ikatan pernikahan. Pada hubungan ini berlangsung sebuah tahapan hubungan yang dapat dikatakan intim (Liliweri, 1997:56).

Hubungan orang tua dan anak-anak, hubungan ini adalah hubungan yang terlihat diantara orang tua dengan anak-anak mereka dalam suatu keluarga inti. Anak-anak merupakan hasil perkawinan, buah cinta yang mendalam dari sepasang suami istri, dimana anak-anak merupakan wujud dari kesatuan mereka (Liliweri, 1997:58).

Hubungan persaudaraan, hubungan ini ditandai oleh perasaan cinta dan kedekatan antara kakak dan adik, maupun antara anak-anak dari ayah dan ibu yang sama. Cinta yang menandai hubungan persaudaraan itu berlandaskan berlandaskan emosi. Kedekatan intra-anggota keluarga akan membawa dampak bagi keluarga lain (Liliweri, 1997:58).

1.1.3 Hubungan Persahabatan

Hubungan persahabatan merupakan salah satu jenis dari komunikasi antar pribadi. Beberapa alasan mengapa kita membutuhkan sahabat adalah karena dalam persahabatan terdapat rasa kebersamaan, perpaduan emosi dan stabilitas, kesempatan untuk berkomunikasi tentang diri kita, dukungan dari sahabat, kesempatan untuk saling membantu, persediaan pertolongan dan dukungan fisik, jaminan akan nilai dan harga diri.

Persahabatan diperoleh setelah melalui tahap perkenalan. Seorang sahabat merupakan orang yang mempunyai kedudukan tertentu dalam hubungan antar pribadi. Menempatkan seseorang menjadi sahabat karena telah mengenal dia dengan baik, selain itu juga kita telah menaruh rasa percaya dan harapan kepada dia sebagai seseorang yang mempunyai perhatian terhadap kita (Liliweri, 1997:55). Persahabatan yang baik ditandai dengan adanya kehangatan dan kasih sayang, kejujuran, adanya komitmen, dan menjalani hubungan tersebut secara alami. Dalam hubungan persahabatan, komitmen ditunjukan dengan cara mengorbankan waktu dan energy mereka untuk menolong sahabat yang membutuhkan. Namun seringkali individu dalam menjalankan suatu hubungan, tidak menyadari harapan mereka pada sahabatnya, sampai terjadi sesuatu yang dirasakan mengganggu. Hubungan tersebut mengalami konflik dan mulai mengalami kemunduran dan proses negosiasi tidak berjalan yang mengakibatkan pola komunikasi diantara mereka berubah. Padahal komunikasi mempengaruhi hubungan, karena komunikasi dan hubungan senantiasa berkaitan.

1.1.4 Penyebab Konflik Dalam Hubungan Persahabatan

Hubungan antar manusia mungkin tumbuh dan maju, menjadi kuat dan bermakna, tetapi hubungan tersebut mungkin juga mundur dan menyusut, menjadi lemah dan bermakna (Devito, 1998:316). Ini dapat terjadi pada semua hubungan manusia juga hubungan persahabatan. Kemunduran hubungan menunjukan lemahnya ikatan suatu hubungan. Kemunduran hubungan dimulai dengan adanya ketidak puasan individu pada pasangannya (Devito, 1997:296).

Definisi dari konflik itu sendiri adalah suatu keadaan dimana individu yang lain mengalami perbedaan presepsi atau pendapat yang tidak dapat dipersatukan sehingga mengakibatkan proses negosiasi yang tidak berjalan dengan baik (Devito, 1997:296-297).

Beberapa penyebab konflik pada suatu hubungan yaitu :

1. Alasan-alasan untuk membina hubungan telah meluntur

Masing-masing individu dalam suatu hubungan mempunyai kepercayaan atau cara mereka berfikir tentang suatu hubungan perbedaan pengertian dan kepercayaan tentang hubungan akan mempengaruhi hubungan tersebut.

2. Hubungan pihak ketiga

Suatu hubungan akan mengalami kemunduran apabila salah satu anggota dalam hubungan itu mempunyai hubungan yang baru dengan yang lain. Apalagi apabila hubungan itu lebih baik daripada hubungan sebelumnya.

3. Perubahan sifat hubungan

Perubahan perilaku individu dalam suatu hubungan akan menghasilkan masalah yang serius. Apabila mereka tidak terbiasa dengan perubahan tersebut maka mereka akan merasa tidak nyaman, akibatnya hubungan yang sedang berjalan akan mengalami konflik.

4. Harapan yang tidak terkatakan

Harapan individu dalam suatu hubungan seringkali tidak realistis bagi individu lainnya (Devito, 1997:250-252).

1.1.5 Pola Bentuk Komunikasi Dalam Kemunduran Hubungan Persahabatan

Di dalam keadaan pada suatu hubungan persahabatan yang mengalami konflik atau masalah memiliki beberapa bentuk pola komunikasi tertentu dilakukan oleh individu-individu yang menjalani hubungan tersebut, yang diperkuat dengan teori empat macam bentuk pola komunikasi dalam kemunduran suatu hubungan diantaranya :

1. Menarik diri

Pola menarik diri dalam bentuk non verbal dan verbal :

· Non verbal : Jika angota dalam hubungan persahabatan berperilaku dengan mengambil diantara mereka dengan kontak mata, sentuhan, dan bahkan pakaian atau apapun yang mereka kenakkan dapat memperlihatkan kalau mereka sedang mengalami kemunduran hubungan.

· Verbal : Ditandai dengan berkurangnya keinginan untuk berbicara dan mendengarkan.

2. Pengungkapan diri

Jika individu dalam suatu hubungan persahabatan merasa tidak nyaman dan puas dengan hubungan yang dijalaninya, mereka akan mengurangi keterbukaan mereka masing-masing. Mereka merasa tidak ada yang bisa dipercayai lagi.

3. Pengelabuan

Ketika hubungan mulai bermasalah, individu-individu dalam hubungan itu mulai saling menghindar seperti menghindari pertengkaran, tidak saling menghubungi dan mulai berbohong terhadap pasangannya.

4. Reaksi evaluasi

Selama kemunduran hubungan muncul pikiran negative bertambah dan berkurangnya pikiran positif membuat para individu dalam hubungan tersebut merasa tidak nyaman dan tidak ingin meneruskan hubungan itu. Sering muncul kata-kata diantara mereka (Devito, 1997:254-255).

Individu yang telah mengalami kemunduran dalam suatu hubungan akan melakukan pola komunikasi seperti yang tersebut diatas sebagai sebab dalam menentukan masa depan suatu hubungan. Apabila kemunduran hubungan itu terulang kembali mereka akan mengetahui dan merasakan hubungan yang terjalin sedang dalam masalah. Mereka dapat menghindari konflik yang terjadi dalam hubungan persahabatan, karena mereka telah mengetahui pola komunikasi yang terjadi dalam kemunduran suatu hubungan. Mereka juga dapat memprediksi hubungan tersebut dapat berjalan kembali atau justru sebaliknya yaitu putus hubungan.

1.1.6 Komunikasi sebagai solusi konflik

Konflik adalah suatu keadaan dimana individu satu dengan individu yang lain mengalami perbedaan presepsi atau pendapat yang tidak dapat dipersatukan sehingga mengakibatkan proses negoisasi yang tidak berjalan dengan baik (Devito, 1997:296-297).

Komunikasi antar pribadi dapat menjadi efektif maupun sebaliknya, karena apabila terjadi suatu konflik dalam hubungan, diantaranya hubungan persahabatan, maka karakteristik komunikasi antar pribadi menjadi tidak efektif. Berikut ini terdapat sudut pandang yang membahas tentang karakteristik komunikasi antar pribadi yang efektif, diantaranya :

1. Sudut pandang humanistik

Sudut pandang yang menekankan pada keterbukaan, empati, sikap mendukung, sikap positif, dan kesetaraan yang menciptakan interaksi yang bermakna, jujur, dan memuaskan. Beberapa hal yang ditekankan dalam sudut pandang ini memiliki penjabaran yang lebih luas diantaranya :

a) Keterbukaan, yang memiliki pengertian bahwa dalam komunikasi antar pribadi yang efektif harus terbuka kepada orang yang diajak berinteraksi, kesediaan untuk membuka diri, kesediaan untuk mengakui perasaan dan pikiran yang anda miliki dan juga mempertanggung jawabannya.

b) Empati, kemampuan seseorang untuk “mengetahui” apa yang sedang dialami orang lain pada suatu saat tertentu, dari sudut pandang atau “kaca mata” orang lain tersebut, dimana seorang juga mampu untuk memahami motivasi dan pengalaman orang lain, perasaan, dan sikap mereka, serta harapan dan keinginan mereka atau masa depannya.

c) Sikap mendukung, dalam hal ini merupakan perlengkapan dari pada kedua hal sebelumnya, karena komunikasi yang terbuka dan empatik tidak dapat berlangsung dalam suasana tidak mendukung

d) Sikap positif, komunikasi antar pribadi akan terbina apabila orang memiliki sikap yang positif terhadap diri mereka sendiri, karena orang yang merasa positif dengan diri sendiri akan mengisyaratkan perasaan ini kepada orang lain, yang selanjutnya juga akan merefleksikan perasaan positif ini kepada lawan bicaranya, kemudian sikap positif juga dapat diwujudkan dengan memberikan suatu sikap dorongan dengan menunjukan sikap menghargai keberadaan, pendapat, dan pentingnya orang lain, dimana perilaku ini sangat bertentangan dengan sikap ketidakacuhan.

e) Kesetaraan, memiliki pengertian bahwa kita menerima pihak lain atau mengakui dan menyadari bahwa kedua pihak sama-sama menilai dan berharga. Karena pada kesetaraan, suatu konflik akan lebih dapat dilihat sebagai upaya untuk memahami perbedaan yang pasti ada daripada sebagai kesempatan untuk menjatuhkan orang lain.

2. Sudut pandang pragmatis

Sudut pandang yang menekankan pada manajemen dan kesegaran interaksi, dan secara umum, kualitas-kualitas yang menentukan pencapaian tujuan yang spesifik. Beberapa hal yang ditekankan dalam sudut pandang ini memiliki penjabaran yang lebih luas diantaranya :

a) Keparcayaan diri, komunikator yang efektif memiliki kepercayaan diri, dimana hal itu dapat dilihat pada kemampuan untuk menghadirkan suasana nyaman pada saat berinteraksi diantaranya kepada orang-orang yang merasa gelisah, pemalu, atau kuatir dan membuat mereka merasa nyaman.

b) Kebersatuan, mengacu pada penggabungan antara pembicaraan dan pendengar, dimana terciptanya rasa kebersamaan dan kesatuan yang mengisyaratkan minat dan perhatian untuk mau mendengarkan.

c) Manajemen interaksi, dalam melakukan suatu komunikasi dapat mengendalikan interaksi untuk kepuasan kedua pihak, sehinggatidak seorang pun merasa diabaikan atau merasa menjadi tokoh yang paling penting. Beberapa cara yang tepat untuk melakukannya adalah dengan menjaga peran sebagai pembicara dan pendengar melalui gerakan mata, ekspresi vocal, gerakan tubuh dan wajah yang sesuai dan juga dengan saling memberikan kesempatan untuk berbicara merupakan wujud dari menajemen interaksi.

d) Daya ekspresi, mengacu pada kemampuan untuk mengkomunikasikan apa yang ingin disampaikan dengan aktif, bukan dengan menarik diri atau melemparkan tanggung jawab kepada orang lain.

e) Orientasi kepada orang lain, dalam hal ini dimaksudkan untuk lebih menyesuaikan diri pada lawan bicara dan mengkosumsikan perhatian dan minat terhadap apa yang dikatakan oleh lawan bicara.

3. Sudut pandang pergaulan sosial

Sudut pandang yang berdasarkan model ekonomi imbalan (rewards) dan biaya (cost). Suatu hubungan diasumsikan sebagai suatu kemitraan dimana imbalan dan biaya saling dipertukarkan.

Ketiga sudut pandang tersebut tidak terpisah satu dengan yang lain melainkan saling melengkapi, karena setiap sudut pandang tersebut membantu kita untuk dapat memahami komunikasi sebagai solusi yang efektif untuk mangatasi masalah dalam suatu hubungan (DeVito,1997:259-268).

1.1.7 Kerangka Pemikiran

REMAJA

ââ

HUBUNGAN PERSAHABATAN

ââ

PENYEBAB KONFLIK

Ø Alasan untuk membina hubungan telah meluntur

Ø Hubungan pihak ketiga

Ø Perubahan sifat hubungan

Ø Harapan yang tidak terkatakan

ââ

POLA BENTUK KOMUNIKASI DALAM KEMUNDURAN HUBUNGAN PERSAHABATAN

Ø Menarik diri

Ø Pengungkapan diri

Ø Pengelabuan

Ø Reaksi evaluasi

ââ

KOMUNIKASI SEBAGAI SOLUSI KONFLIK

HUMANISTIK PRANGMATIS SOSIAL

ØKetarbukaan ØKepercayaan diri ØImbalan

ØEmpati ØKebersatuan ØBiaya

ØSikapmendukung ØManajemen interaksi

ØSikap positif ØDaya ekspresi

ØKesetaraan ØOrientasi kepada orang lain

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Komunikasi Antar Pribadi

Berkomunikasi merupakan keharusan bagi manusia, karena dengan komunikasi kebutuhan manusia akan terpenuhi. Menurut Johnson (1981) dalam (Supratiknya, 2003: 9) mengemukakan beberapa, adalah sebagai berikut :

  1. Komunikasi antar pribadi membantu perkembangan intelektual dan sosial kita.
  2. Identitas atau jati diri kita terbentuk dalam dan lewat komunikasi dengan orang lain.
  3. Dalam rangka memahami realitas di sekeliling kita serta menguji kebenaran kesan-kesan dan pengertian yang kita miliki tentang dunia di sekitar kita, kita perlu membandingkannya dengan kesan-kesan dan pengertian orang lain dan realitas yang sama.
  4. Kesehatan mental kita sebagian besar juga ditentukan oleh kualitas komunikasi atau hubungan kita dengan orang lain, lebih-lebih orangorang yang merupakan tokoh-tokoh signifikan (significant figures) dalam hidup kita.

Diawali dengan komunikasi yang intensif dengan ibu pada masa bayi, lingkaran komunikasi itu menjadi semakin luas dengan bertambahnya usia individu. Seiring dengan proses tersebut,perkembangan intelektual dan sosial individu sangat ditentukan oleh kualitas komunikasi dengan orang lain tersebut. Secara sadar maupun tidak sadar individu memperhatikan dan mengingat-ingat semua tanggapan dari orang lain terhadap diri individu. Dengan komunikasi dengan orang lain individu dapat menemukan diri yang sebenarnya. Komunikasi antarpribadi mengembangkan individu dari dimensi kesosialan.
Bersosialisasi dengan orang lain secara tidak langsung menunjukkan kekhasan diri sendiri, sehingga lebih mudah menemukan jatidiri. Kondisi mental yang sehat dan tidak sehat ternyata dipengaruhi juga oleh kualitas komunikasi antarpribadi dengan orang lain. Oleh sebab itu komunikasi antarpribadi sangat penting bagi kehidupan individu yang hidup di tengah-tengah lingkungan sosial.

2.2 Ciri-ciri Komunikasi Antar Pribadi

Komunikasi antar pribadi bersifat dialogis, dalam arti arus balik antara komunikator dengan komunikan terjadi langsung, sehingga pada saat itu juga komunikator dapat mengetahui secara langsung tanggapan dari komunikan, dan secara pasti akan mengetahui apakah komunikasinya positif, negatif dan berhasil atau tidak. Apabila tidak berhasil, maka komunikator dapat memberi kesempatan kepada komunikan untuk bertanya seluas-luasnya. Sebagaimana yang telah dikemukakan dalam penegasan istilah, penelitian ini lebih ditekankan pada dimensi psikologis perilaku komunikasi antar pribadi siswa. Sehingga secara psikologis perilaku komunikasi antarpribadi siswa meliputi keterbukaan, empati, dukungan, rasa positif dan kesetaraan.
Berikut ini merupakan ciri-ciri efektifitas komunikasi antarpribadi menurut Kumar (Wiryanto, 2005: 36) dan De vito (Sugiyo, 2005: 4) bahwa ciri-ciri komunikasi antarpribadi tersebut yaitu :

  1. Keterbukaan (Openess), yaitu kemauan menanggapi dengan senang hati informasi yang diterima di dalam menghadapi hubungan antar pribadi.
  2. Empati (Empathy), yaitu merasakan apa yang dirasakan orang lain.
  3. Dukungan (Supportiveness), yaitu situasi yang terbuka untuk mendukung komunikasi berlangsung efektif.
  4. Rasa positif (positivenes), seseorang harus memiliki perasaan positif terhadap dirinya, mendorong orang lain lebih aktif berpartisipasi, dan menciptakan situasi komunikasi kondusif untuk interaksi yang efektif.
  5. Kesetaraan atau kesamaan (Equality), yaitu pengakuan secara diam - diam
    bahwa kedua belah pihak menghargai, berguna, dan mempunyai sesuatu yang penting untuk disumbangkan.

Senada dengan yang dikemukakan oleh De vito (Sugiyo, 2005: 4) bahwa ciri-ciri komunikasi antarpribadi tersebut demikian. Dari kelima ciri-ciri efektifitas kamunikasi antar pribadi tersebut, dapat dijelaskan sebagai berikut:

· Keterbukaan (Openess)

Keterbukaan atau sikap terbuka sangat berpengaruh dalam menumbuhkan komunikasi antarpribadi yang efektif. Keterbukaan adalah pengungkapan reaksi atau tanggapan kita terhadap situasi yang sedang dihadapi serta memberikan informasi tentang masa lalu yang relevan untuk memberikan tanggapan kita di masa kini tersebut.
Johnson Supratiknya, (1995: 14) mengartikan keterbukaan diri yaitu membagikan kepada orang lain perasaan kita terhadap sesuatu yang telah dikatakan atau dilakukan, atau perasaan kita terhadap kejadian-kejadian yang baru saja kita saksikan.
Secara psikologis, apabila individu mau membuka diri kepada orang lain, maka orang lain yang diajak bicara akan merasa aman dalam melakukan komunikasi antar pribadi yang akhirnya orang lain tersebut akan turut membuka diri.
Brooks dan Emmert (Rahmat, 2005: 136) mengemukakan bahwa karakteristik orang yang terbuka adalah sebagai berikut:

a) Menilai pesan secara objektif, dengan menggunakan data dan keajegan logika.

b) Membedakan dengan mudah, melihat nuansa, dsb.

c) Mencari informasi dari berbagai sumber.

d) Mencari pengertian pesan yang tidak sesuai dengan rangkaian kepercayaannya.

· Empati (Empathy)

Komunikasi antar pribadi dapat berlangsung kondusif apabila komunikator (pengirim pesan) menunjukkan rasa empati pada komunikan (penerima pesan). Menurut Sugiyo (2005: 5) empati dapat diartikan sebagai menghayati perasaan orang lain atau turut merasakan apa yang dirasakan orang lain. Sementara Surya (Sugiyo, 2005: 5) mendefinisikan bahwa empati adalah sebagai suatu kesediaan untuk memahami orang lain secara paripurna baik yang nampak maupun yang terkandung, khususnya dalam aspek perasaan, pikiran dan keinginan. Individu dapat menempatkan diri dalam suasana perasaan, pikiran dan keinginan orang lain sedekat mungkin apabila individu tersebut dapat berempati. Apabila empati tersebut tumbuh dalam proses komunikasi antar pribadi, maka suasana hubungan komunikasi akan dapat berkembang dan tumbuh sikap saling pengertian dan penerimaan.
Menurut Winkel (1991: 175) bahwa empathy yaitu, konselor mampu mendalami pikiran dan menghayati perasaan siswa, seolah-olah konselor pada saat ini menjadi siswa, tanpa terbawa-bawa sendiri oleh semua itu dan kehilangan kesadaran akan pikiran serta perasaan pada diri sendiri.
Sedangkan Jumarin (2002: 97) menyatakan bahwa empati tidak saja berkaitan dengan aspek kognitif, tetapi juga mengandung aspek afektif, dan ditunjukkan dalam gerakan, cara berkomunikasi.

· Dukungan (Supportiveness)

Dalam komunikasi antar pribadi diperlukan sikap memberi dukungan dari pihak komunikator agar komunikan mau berpartisipasi dalam komunikasi. Hal ini senada dikemukakan Sugiyo (2005: 6) dalam komunikasi antarpribadi perlu adanya suasana yang mendukung atau memotivasi, lebih-lebih dari komunikator. Rahmat (2005 :133) mengemukakan bahwa “sikap supportif adalah sikap yang mengurangi sikap defensif . Orang yang defensif cenderung lebih banyak melindungi diri dari ancaman yang ditanggapinya didalam situasi komunikan dari pada memahami pesan orang lain.
Dukungan merupakan pemberian dorongan atau pengobaran semangat kepada orang lain dalam suasana hubungan komunikasi. Sehingga dengan adanya dukungan dalam situasi tersebut, komunikasi antarpribadi akan bertahan lama karena tercipta suasana yang mendukung. Jack R.Gibb (Rahmat, 2005: 134) menyebutkan beberapa perilaku yang menimbulkan perilaku suportif, yaitu :

¨ Deskripsi, Yaitu menyampaikan perasaaan dan persepsi kepada orang lain tanpa menilai; tidak memuji atau mengecam, mengevaluasi pada gagasan, bukan pada pribadi orang lain, orang tersebut “merasa” bahwa kita menghargai diri mereka.

¨ Orientasi masalah, Yaitu mengajak untuk bekerja sama mencari pemecahan masalah, tidak mendikte orang lian, tetapi secara bersamasama menetapkan tujuan dan memutuskan bagaimana mencapainya.

¨ Spontanitas, Yaitu sikap jujur dan dianggap tidak menyelimuti motif yang terpendam.

¨ Provisionalisme, Yaitu kesediaan untuk meninjau kembali pendapat diri sendiri, mengakui bahwa manusia tidak luput dari kesalahan sehingga wajar kalau pendapat dan keyakinan diri sendiri dapat berubah.

· Rasa positif (positivenes)

Rasa positif merupakan kecenderungan seseorang untuk mampu bertindak berdasarkan penilaian yang baik tanpa merasa bersalah yang berlebihan, menerima diri sebagai orang yang penting dan bernilai bagi orang lain, memiliki keyakinan atas kemampuannya untuk mengatasi persoalan, peka terhadap kebutuhan orang lain, pada kebiasaan sosial yang telah diterima. Dapat memberi dan menerima pujian tanpa pura-pura memberi dan menerima penghargaan tanpa merasa bersalah.
Sugiyo (2005: 6) mengartikan bahwa rasa positif adalah adanya kecenderungan bertindak pada diri komunikator untuk memberikan penilaian yang positif pada diri komunikan. Dalam komunikasi antar pribadi hedaknya antara komunikator dengan komunikan saling menunjukkan sikap positif, karena dalam hubungan komunikasi tersebut akan muncul suasana menyenangkan, sehingga pemutusan hubungan komunikasi tidak dapat terjadi. Rahmat (2005: 105) menyatakan bahwa sukses komunikasi antarpribadi banyak tergantung pada kualitas pandangan dan perasaan diri; positif atau negatif.Pandangan dan perasaan tentang diri yang positif, akan lahir pola perilaku komunikasi antarpribadi yang positif pula.

· Kesetaraan (Equality)

Kesetaraan merupakan perasaan sama dengan orang lain, sebagai manusia tidak tinggi atau rendah, walaupun terdapat perbedaan dalam kemampuan tertentu, latar belakang keluarga atau sikap orang lain terhadapnya. Rahmat (2005: 135) mengemukakan bahwa persamaan atau kesetaraan adalah sikap memperlakukan orang lain secara horizontal dan demokratis, tidak menunjukkan diri sendiri lebih tinggi atau lebih baik dari orang lain karena status, kekuasaan, kemampuan intelektual kekayaan atau kecantikan. Dalam persamaan tidak mempertegas perbedaan, artinya tidak mengggurui, tetapi berbincang pada tingkat yang sama, yaitu mengkomunikasikan penghargaan dan rasa hormat pada perbedaan pendapat merasa nyaman, yang akhirnya proses komunikasi akan berjalan dengan baik dan lancar.

2.3 Memahami Diri Orang Lain Dalam Komunikasi Antar Pribadi

Diri pribadi adalah suatu ukuran kualitas yang memungkinkan seseorang untuk dianggap dan dikenali sebagai individu yang berbeda dengan individu lainnya. Kualitas yang membuat seseorang memiliki kekhasan sendiri sebagai manusia ini, tumbuh dan berkembang melalui interaksi sosial, yaitu berkomunikasi dengan orang lain. Individu tidak dilahirkan dengan membawa kepribadian. Pengalaman dalam kehidupan akan membentuk diri pribadi setiap manusia, tetapi setiap orang juga harus menyadari apa yang sedang terjadi dan apa yang telah terjadi pada diri pribadinya. Kesadaran terhadap diri pribadi ini pada dasarnya adalah suatu proses persepsi yang ditujukan pada dirinya sendiri.

Persepsi Terhadap Diri Pribadi (self-perception) Proses psikologis diasosiasikan dengan interpretasi dan pemberian makna terhadap orang atau objek tertentu, dikenal dengan persepsi. Menurut Fisher, persepsi didefenisikan sebagi interpretasi terhadap berbagai sensasi sebagai representasi dari objek-objek eksternal, jadi persepsi adalah pengetahuan yang dapat ditangkap oleh indera kita, karenanya persepsi mensyaratkan:

1. Adanya objek eksternal yang dapat ditangkap oleh indera kita.

2. Adanya informasi untuk diinterpretasikan.

3. Menyangkut sifat representatif dari penginderaan.

Karenanya persepsi tidak lebih dari sekedar pengetahuan mengenai apa yang tampak sebagai realitas bagi diri kita. Realitas yang kita persepsikan seringkali adalah yang paling jelas, pribadi, penting dan terpercaya bagi kita. Sementara indera kita punya keterbatasan, karenanya bisa jadi pengetahuan yang kita simpulkan bukanlah suatu kenyataan yang sebenarnya.

Sifat-sifat persepsi Persepsi terjadi di dalam benak individu yang mempersepsi, bukan didalam objek dan selalu merupakan pengetahuan tentang penampakan. Maka apa yang mudah menurut kita belum tentu mudah bagi orang lain, atau apa yang jelas menurut orang lain mungkin terasa membingungkan bagi kita. Dalam konteks inilah kita perlu memahami sifat-sifat persepsi:

1. Persepsi adalah.Untuk memaknai seseorang, objek atau peristiwa kita menginterpretasikannya dengan pengalaman masa lalu yang menyerupainya. Pengalaman menjadi pembanding untuk mempersepsikan suatu makna.

2. Persepsi adalah selektif. Kita melakukan seleksi pada hal-hal yang kita inginkan saja, sehingga mengabaikan yang lain. Kita mempersepsikan hanya yang kita inginkan atas dasar sikap, nilai dan keyakinan yang ada dalam diri kita, dan mengabaikan karakteristik yang berlawanan dengan keyakinan atau nilai yang kita miliki.

3. Persepsi adalah penyimpulan. Mencakup penarikan kesimpulan melalui suatu proses induksi secara logis. Interpretasi yang dihasilkan melalui persepsi adalah penyimpulan atas informasi yang tidak lengkap. Artinya mempersepsikan makna adalah melompat pada suatu kesimpulan yang tidak sepenuhnya didasarkan atas data sesungguhnya, tapi hanya berdasar penangkapan indra yang terbatas.

4. Persepsi tidak akurat. Setiap persepsi yang kita lakukan akan mengandung kesalahan dalam kadar tertentu. Ini disebabkan oleh pengalaman masa lalu, selektivitas dan penyimpulan. Semakin jauh jarak antara orang yang mempersepsi dengan objeknya, maka semakin tidak akurat persepsinya.
5. Persepsi adalah evaluative. Persepsi tidak pernah objektif, karena kita melakukan interpretasi berdasarkan pengalaman dan merefleksikan sikap, nilai dan keyakinan pribadi yang digunakan untuk memberi makna pada objek yang dipersepsi. Kita cenderung mengingat hal-hal yang memiliki nilai tertentu bagi diri kita (bisa sangat baik atau sangat buruk). Sementara yang biasa-biasa saja cenderung kita lupakan dan tidak bisa diingat dengan baik.

¨ Beberapa Elemen Persepsi
Sensasi/penginderaan dan interpretasi.
Ketika individu menangkap sesuatu melalui inderanya (melihat, mendengar, mencicipi, membau dan meraba) maka secara simultan ia akan menginterpretasikan makna dari hasil penginderaan.

¨ Harapan.
Kita cenderung untuk mendengar apa yang kita harapkan untuk didengar dan melihat apa yang kita harapkan untuk dilihat.

¨ Bentuk dan latar belakang (figure & ground).
Persepsi mencakup pembedaan antara informasi yang menjadi figure (informasi yang dianggap penting/relevan) dan informasi yang menjadi background (informasi yang kurang penting/relevan).

¨ Perbandingan.
Orang biasanya ingin meyakini kebenaran persepsinya. Caranya adalah dengan melakukan perbandingan berdasarkan pengalaman yang pernah dialaminya.

¨ Konteks.
Seperangkat fenomena yang mendasari suatu objek untuk dimaknai.

2.4 Kesadaran Pribadi (self-awarness)

Identitas diri adalah cara-cara yang kita gunakan untuk membedakan individu satu dengan individu-individu lainnya. Dengan demikian diri adalah suatu pengertian yang mengacu pada identitas spesifik dari individu. Fisher menyebutkan ada beberapa elemen dari kesadaran diri, yaitu konsep diri, self-esteem, dan multiple selves.

· Konsep diri adalah bagaimana kita memandang diri kita sendiri. Umumnya orang menggolongkan diri sendiri dalam tiga kategori;

a. Karakteristik atau sifat pribadi adalah sifat yang dimiliki, seperti fisik (laki-laki, perempuan, tinggi, rendah, cantik, tampan, gemuk, dsb). Atau kemampuan tertentu (pandai, pendiam, rajin, cermat dsb).

b. Karakteristik atau sifat sosial, misalnya introvert atau ekstrovert, ramah atau ketus, periang ataupendiam.

c. Peran sosial, contohnya ayah, ibu, guru, militer, polisi

· Self esteem, merupakan bagian yang inherent dari konsep diri. Self esteem kita adalah bagian dari interpretasi atau penyimpulan dari persepsi diri. Self-esteem berpengaruh pada perilaku komunikasi kita. Jika self-esteem kita tinggi, biasanya kita lebih percaya diri, mandiri dan merasa kompeten.

· Multi selves. Setiap kita kadang memiliki identitas yang berbeda dalam berbagai situasi atau kondisi. Misalnya di kelas sebagai guru, di rumah sebagai ayah.

2.5 Memahami orang lain dalam komunikasi

Suatu interaksi komunikasi melibatkan dua orang, akan terdapat dua pribadi yang harus dikenali, yaitu diri kita sendiri dari diri orang yang menjadi lawan bicara kita. Walau pun bukan hal mudah, ada dua jenis informasi yang dapat kita gunakan untuk tujuan itu :

1. Menyusun mekanisme proteksi, yaitu kita ingin mengetahui apa yang diharapkannya melalui komunikasi dengan kita.

2. Melakukan pemahaman terhadap tujuan orang, kita dapat mengevaluasi kesungguhan atau akurasi dari penampilannya.

Setiap individu melakukan itu dalam rangka mencapai dua tujuan, yaitu mengurangi ketidakpastian dan perbandingan sosial. Ketika pertama bertemu dengan seseorang maka sejumlah pertanyaan muncul dalam diri kita. Selanjutnya kita akan berkomunikasi untuk mendapatkan sejumlah jawaban terhadap sejumlah pertanyaan. Jadi dalam tahap awal komunikasi antarpribadi, kita akan berusaha mengurangi ketidakpastian yang kita rasakan. Upaya ini pada dasarnya merupakan proses pemaknaan, yaitu menghilangkan makna-makna yang tidak sesuai hingga tersisa makna-makna yang kita anggap sesuai.

Perbandingan sosial adalah proses membandingkan diri kita dengan orang lain. Festinger mengatakan biasanya orang melakukan evaluasi diri, yaitu suatu cara untuk mengetahui diri kita sendiri (konsep diri). Selain itu juga kita ingin mengetahui bagaimana menilai diri kita (self esteem). Ketika melakukan perbandingan sosial, kita cenderung untuk membandingkan dengan yang setara. Artinya kita cenderung tidak melakukan evaluasi diri secara objektif, meskipun demikian ini merupakan cara yang sehat untuk menjaga kestabilan konsep diri dan self esteem.

2.6 Persepsi Terhadap Orang lain

Proses mempersepsi orang lain mencakup persepsi terhadap karakteristik fisik dan perilaku komunikasi orang tersebut. Steve Duck mengemukakan 3 hal berkaitan dengan itu :

1. Perilaku tersebut mungkin terasa menyenangkan bagi kita, karena biasanya kita suka dengan senyuman dan pujian.

2. Perilaku tersebut memberi informasi yang kita gunakan untuk membentuk semacam kesan mengenai kondisi internal seseorang (kepribadian, nilai, sikap, keyakinan).

3. Perilaku seseorang dapat memberikan perkiraan mengenai kelanjutan hubungan di kemudian hari.

2.7 Perilaku Terhadap orang lain

Untuk dapat berkomunikasi secara efektif, kita berharap untuk dapat mempengaruhi persepsi orang lain terhadap diri kita. Kita menginginkan orang lain memiliki penilaian yang baik terhadap diri kita, paling tidak memiliki kesan bahwa kita konsisten dengan tujuan kita berkomunikasi dengannya. Kita dapat berharap bahwa prang lain dapat menjadi teman, pimpinan, pasangan dan berbagai peran sosial lainnya. Meskipun kita tidak bisa mengendalikan persepsi orang seperti yang kita mau, namun kita dapat mengarahkan persepsi mereka sesuai yang kita harapkan. Beberapa konsep yang menjelaskan itu antara lain :

1. Impression management. Erving Gooffman mengemukakan bagaimana setiap orang dalam kesehariannya memainkan macam-macam peran kepada orang lain. Tindakan itu sesuatu yang alamiah dan wajar dalam melakukan interaksi sosial. Konsep ini memandang KAP sebagai sebuah drama atau sandiwara. Sebagai partisipan dalam komunikasi kita bukan saja aktor tapi juga penulis skenario yang menulis naskah drama kehidupan nyata kita.

2. Retorical sensitivity. Dikemukakan oleh Rod Hart dan Don Burks, yang mengacu pada kualitas persepsi yang didasarkan atas kemungkinan-kemungkinan. Menerapkan konsep ini berarti peka terhadap diri sendiri, peka terhadap situasi, dan terutama peka terhadap orang lain. Tindakan ini mencakup pemilihan perilaku komunikasi yang sesuai bagi kombinasi antara diri kita, orang lain, dan situasi tertentu selama kegiatan KAP. Dengan kata lain konsep ini melakukan adaptasi terhadap sejumlah kemungkinan. Terdapat 5 karakteristik dari konsep ini:

a. Mampu menerima kompleksitas pribadi.

b. Menghindari sikap kaku/keras dalam berkomunikasi dengan orang lain.

c. Menyeimbangkan kepentingan pribadi dengan kepentingan orang lain.

d. Meyadari kapan harus berkomunikasi dalam berbagai situasi yang berbeda.

e. Menyadarai pesan dapat disampaikan dalam berbagai cara untuk menyamapikan suatu maksud.

3. Atributional respons, merupakan cara lain penggunaan proses atribusi melalui perilaku kita sebagai reaksi atas tindakan orang lain. Setiap tindak komunikasi dalam percakapan dapat menyertakan ekspresi atau pernyataan atributif.

4. Konfirmasi antar pribadi.

2.8 Memahami Hubungan Antarpribadi

Hubungan antarpribadi memainkan peranan penting dalam membentuk kehidupan kita. Kita tergantung kepada orang lain dalam perasaan, pemahaman informasi, dukungan dan berbagai bentuk komunikasi yang mempengaruhi citra diri kita dan membantu kita mengenali harapan-harapan orang lain. Sejumlah penelitian menunjukan bahwa hubungan antar pribadi membuat kehidupan menjadi lebih berarti. Sebaliknya hubungan yang buruk bahkan dapat membawa efek negative bagi kesehatan. Seperti yang ditemukan oleh Patel (Reardon; 1987; 159) bahwa hubungan antar pribadi dalam keluarga dan tempat kerja yang penuh stress dapat meningkatkan kemungkinan seseorang untuk hipertensi. Sebaliknya pasangan suami istri yang saling mencintai dan mereka yang memiliki jaringan teman yang menyenangkan cenderung terhindar dari hipertensi.

Orang memerlukan hubungan antarpribadi terutama untuk dua hal, yaitu perasaan (attachment) dan ketergantungan (dependency). Perasaan mengacu pada hubungan, yang secara emosional intensif. Sementara ketergantungan mengacu pada instrument perilaku antarpribadi, seperti membutuhkan bantuan, membutuhkan persetujuan, dan mencari kedekatan. Lebih lanjut selain kebutuhan berteman orang juga saling membutuhkan untuk kepentingan mempertahankan hidup. Kompleksitas kehidupan masa kini semakin membuat kita saling tergantung satu dengan yang lainnya, dibanding masa-masa sebelumnya. Hasilnya adalah kita saling perlu untuk saling berbagi dan bekerjasama.

Salah satu karakteristik penting dalam hubungan antarpribadi adalah bahwa hubungan tersebut banyak yang tidak diciptakan atau diakhiri berdasarkan kemauan/kesadaran kita. Kita terlahir kedalam berbagai hubungan, sebagian berkaitan dengan pekerjaan dan lainnya merupakan hasil dari perkawinan, dan kita tidak selalu bebas untuk membentuk hubungan. Hubungan semacam ini berbeda dari hubungan yang secara sadar kita pilih/bentuk, karena kendala-kendala yang terdapat pada perilaku para partisipannya. Artinya kita tidak bisa begitu saja memutuskan keluar dari hubungan antara kita dengan pimpinan, teman, orang tua, adik/kakak, tanpa harus mengorbankan sesuatu (pekerjaan, perasaan dsb) meskipun demikian banyak juga hubungan yang tidak kita rencanakan dapat menghadirkan dukungan sosial.

Banyak factor yang mempengaruhi jumlah, jenis dan kualitas hubungan yang kita miliki, yang direncanakan maupun yang tidak kita rencanakan. Misalnya status sosial ekonomi, umur dan gender (jenis kelamin) akan mempengaruhi bukan saja kepada siapa kita berhubungan, tetapi juga bagaimana dan seberapa sering kita berinteraksi dengan orang lain. Orang yang memiliki status ekonomi yang berbeda akan meyebabkan peerbedaan sumber-sumber yang dimiliki untuk mengembangkan hubungan. Misalnya memiliki handphone dan memiliki modil akan membuat kita dapat berhubungan dengan orang yang mobilitasnya tinggi. Jenis pekerjaan dari oranng yang berbeda status social ekonominya juga mempengaruhi hubungan antarpribadinya, pekerjaan merupakan salah satu sumber hubungan sosial yang penting, karenanya mengetahui jumlah dan jenis hubungan antarpribadi mereka.

Sementara itu beberapa penelitian menemukan bahwa orang pada masa pension memiliki hubungan sosial yang relative terlambat. Menurunnya kesehatan dan mobilitas membuat mereka agak sulit melakukan sosialisasi. Perbedaan kesempatan kerja antara wanita dan pria dan perbedaan aktivitas di luar rumah di antara mereka juga telah menyebabkan perbedaan pola dan jenis hubungan antarpribadi antara pria dan wanita. Penelitian lainnya mngemukakan bahwa gender berpengaruh dalam hal cara berkomunikasi. Wanita dianggap lebih banyak berbicara sekedar untuk berbicara, bila dibandingkan dengan pria. Wanita lebih banyak terlibat dalam pembicaraan yang bersifat pribadi, dan pada umumnya juga wanita lebih menaruh perhatian pada kualitas interaksi/hubungan.

Uraian di atas menunjukan bahwa manusia tidak dapat menghindar dari jalinan hubungan dengan sesamanya. Kita meungkin memiliki kadar yang berbeda dalam membutuhkan orang lain, demikian pula mengenai nilai penting kuantitas dan kualitas hubungan antar pribadi. Meskipun demikian, secara pasti dapat dikatakan bahwa kita memerlukan hubungan antar pribadi.

2..9 Tahap-tahap dalam perkembangan dan Mengakhiri hubungan

Suatu kenyataan dalam kehidupan kita adalah bahwa banyak hubungan dengan orang lain bersifat temporer. Sahabat karib di masa anak-anak belum tentu berperan dalam kehidupan dewasa. Apalagi dalam masyarakat yang mobilitasnya tinggi, akan sulit untuk memelihara persahabatan, sehingga yang terjadi adalah seringnya kita memulai dan mengakhiri hubungan antarpribadi.

Ketika mengembangkan dan mengakhiri hubungan, kita melewati serangkaian tahap keakraban/keintiman. Antara lain dari hubungan yang bukan yang bukan bersifat pribadi dengan menggunakan aturan-aturan ekstrinsik sampai kepada hubungan antarpribadi yang diatur oleh aturan-aturan intrinsik. Knapp (1978) merumuskan model tahapan hubungan yang menunjukan bahwa orang mempertimbangkan untuk menuju hubungan yang lebih akrab dengan orang lain. Menurutnya hubungan berkembang melalui lima tahap, yaitu inisiasi, eksperimen, intensifikasi, integrasi dan ikatan. Kelima tahapan ini lebih merupakan kecenderungan dari perkembangan hubungan, dan bukannya bagaimana seharusnya hubungan berkembang.

Inisiasi biasanya mencakup percakapan singkat dan saling memberi salam. Selama tahap eksperimen, masing-masing akan mengungkap informasi mengenai partnernya. Percakapan pada tahap ini berfungsi untuk menjajaki terjadinya hubungan lebih lanjut, dan membantu dalam mengungkap persamaan atau perbedaan kepentingan. Tahap intesifikasi melibatkan penyelidikan yang lebih mendalam pada kepribadian masing-masing. Tahap integrasi menciptakan rasa bersama rasa kami atau kita, dimana keduanya bertindak sebagai satu unit dan bukan sebagai individu yang terpisah. Keputusan yang dibuat pada tahap ini biasanya dilakukan berdua. Sementara tahapan terakhir yaitu ikatan, terjadi ketika keduanya masuk kepada suatu ritual yang secara formal mengakui hubungan jangka panjang.

Acapkali dua orang dalam suatu hubungan berada pada tahap yang berbeda. Meskipun demikian, perbedaan ini dapat memberikan arti positif bagi perkembangan hubungan bila salah satu bisa mengarahkan yang lain untuk lebih memperhatikan hubungan mereka.

Ketika perbedaan pandangan mengenai hubungan yang berlangsung menjadi semakin jelas, maka kemungkinan bagi menurunnya hubungan juga semakin jelas. Duck (1985) mengemukakan bahwa memburuknya hubungan antarpribadi akan melewati sejumlah tahap/batas. Setiap kali melewati batas merupakan pergantian kualitas hubungan.

Model ini bertumpu pada asumsi bahwa disolusi (rusak/memburuk) suatu hubungan melibatkan keputusan-keputusan yang kompleks, dan bahwa hubungan antar pribadi akan membuat keputusan tersebut menjadi tidak sulit dan linear. Dengan kata lain, keputusan itu menghentikan suatu hubungan secara sporadis, tidak konsisten, ambivalen, dalam suatu periode tertentu. Seseorang mungkin akan terombang-ambing antara usaha untuk memperbaiki hubungan atau kepustusan untuk berpisah.

Dalam fase intra-psysic orang akan memusatkan perhatian pada partnernya dan menilai adanya ketidakpuasan di dalam hubungan. Pertimbangan mengenai persoalan-persoalan hubungan lebih banyak berada pada tingkat pribadi atau terakomulasi dalam dirinya sendiri dan hanya sedikit yang dikomunikasikan pada partnernya. Dalam konteks sosial exchange, orang yang hendak mengakhiri hubungan memerlukan waktu untuk menimbang ganjaran dan upaya,dan jika proses ini berlanjut maka dia akan memutuskan untuk menyampaikan secara eksplisit.

Pada fase dyadic, fokusnya ada hubungan itu sendiri. Dalam fase ini komunikasi akan bersifat langsung dan eksplisit, dan dinamika dari hubungan mereka juga dibicarakan. Seseorang akan terpaksa mempertimbangkan, bukan hanya sifat-sifat partnernya yang tidak menyenangkan, tetapi juga perspektif partnernya dan apa yang terkandung dalam perbedaan perspektif mengenai hubungan mereka.

Dalam kondisi seperti ini akan terjadi pembicaraan panjang mengenai bagaimana memecahkan persoalan yang mereka hadapi, apa yang perlu dilakukan, atau apakah perlu untuk mengakhiri hubungan mereka. Fase dyadic dapat berakhir dengan suatu keputusan untuk memperbaiki hubungan mereka. Tetapi jika hal itu tidak dapat dicapai, proses akan berlanjut pada tahap berikutnya, dimana disolusi menjadi permasalahan sosial.

Fase sosial menuntut suatu fokus pada kelompok yang lebih besar seperti keluarga atau teman-teman. Pada fase ini pendapat dan perasaan dari orang-orang di luar hubungan menjadi pertimbangan. Orang di luar ini menjadi sangat berpengaruh terhadap keputusan apa yang harus diambil oleh mereka yang berada di dalam hubungan. Fase terakhir disebut grave dressing karena terjadi setelah pemutusan hubungan. Di sini masing-masing pihak akan memberikan alasannya sendiri, dan dengan cara-cara sendiri mereka akan mengatasi dan menyembuhkan diri dari kedukaan atas berakhirnya hubungan mereka.

BAB III

KESIMPULAN DAN SARAN

3.1 KESIMPULAN

· Komunikasi antar pribadi didefinisikan dengan mengamati komponen-komponen utamanya, yaitu mulai dari penyampaian pesan oleh satu orang dan penerimaan pesan dari orang lain atau sekelompok kecil orang dengan berbagai dampak hingga peluang untuk memberikan umpan balik.

· Komunikasi antar pribadi (KAP) adalah komunikasi yang berlangsung diantara dua orang yang mempunyai hubungan yang mantap dan jelas.

· Komunikasi antar pribadi dilihat sebagai akhir dari perkembangan dari komunikasi yang bersifat tak pribadi (impersonal) menjadi komunikasi pribadi atau yang lebih intim. Para ahli komunikasi mengemukakan enam jenis hubungan antar pribadi yaitu : hubungan perkenalan, hubungan persahabatan, hubungan keintiman, hubungan suami istri, hubungan orang tua dengan anak, hubungan persaudaraan (liliweri 1997:54).

· Alasan umum mengapa seseorang menjalin hubungan diantaranya yaitu : menguragi kesepian dimana rasa kesepian itu muncul ketika kebutuhan interaksi akrab tidak terpenuhi, mengutarakan dorongan karena semua manusia membutuhkan dorongan semangat dan salah satu cara terbaik mendapatkannya adalah dengan interaksi antar manusia, memperoleh pengetahuan tentang diri sendiri karena melalui interaksi seseorang akan melihat dirinya seperti orang lain melihatnya, memaksimalkan kesenangan dan meminimalkan rasa sakit dengan cara memulai berbagi rasa dengan orang lain karena seseorang berusaha untuk memaksimalkan kesenangan dan eminimalkan rasa sakit (Devinto, 1997 : 226-227).

· Alasan mengapa kita membutuhkan sahabat adalah karena dalam persahabatan terdapat rasa kebersamaan, perpaduan emosi dan stabilitas, kesempatan untuk berkomunikasi tentang diri kita, dukungan dari sahabat, kesempatan untuk saling membantu, persediaan pertolongan dan dukungan fisik, jaminan akan nilai dan harga diri.

· Uraian di atas menunjukan bahwa manusia tidak dapat menghindar dari jalinan hubungan dengan sesamanya. Kita meungkin memiliki kadar yang berbeda dalam membutuhkan orang lain, demikian pula mengenai nilai penting kuantitas dan kualitas hubungan antar pribadi. Meskipun demikian, secara pasti dapat dikatakan bahwa kita memerlukan hubungan antar pribadi.

3.2 SARAN

· Setiap Manusia memerlukan hubungan antar pribadi terutama untuk dua hal, yaitu perasaan (attachment) dan ketergantungan (dependency). Perasaan mengacu pada hubungan, yang secara emosional intensif. Sementara ketergantungan mengacu pada instrument perilaku antarpribadi, seperti membutuhkan bantuan, membutuhkan persetujuan, dan mencari kedekatan. Lebih lanjut selain kebutuhan berteman orang juga saling membutuhkan untuk kepentingan mempertahankan hidup. Kompleksitas kehidupan masa kini semakin membuat kita saling tergantung satu dengan yang lainnya, dibanding masa-masa sebelumnya. Hasilnya adalah kita saling perlu untuk saling berbagi dan bekerjasama.

· Hubungan antar pribadi juga sangat membantu dalam kita menjalin hubungan sosial dan Berkomunikasi merupakan keharusan bagi manusia, karena dengan komunikasi kebutuhan manusia akan terpenuhi.

· Dengan komunikasi antar pribadi komunikasi sebagai solusi yang efektif untuk mangatasi masalah dalam suatu hubungan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Pengikut

Mengenai Saya

Foto Saya
Jakarta, Jakarta, Indonesia